Cacar Air, Bahaya Nggak? Cetak kirim sebagai e-Mail
Ditulis Oleh dr. Arief (konsultasi - Online)   
VZV chartNah setelah kita mengetahui bagian awal dari penyakit Cacar Air ini, kita lanjutkan ke bagian lain yang lebih mendalam. Cacar air biasanya didapat dari udara yang tercemar (terinfeksi oleh virus) yang berasal dari saluran napas seorang penderita cacar air. 
Lompatan ini bisa didapatkan dari penderita yang bersin, batuk, berbicara, meniup, dan mekanisme lainnya yang memungkinkan seseorang melemparkan butiran cairan mikroskopikatau droplets dari saluran napasnya. Dalam radius tertentu droplet ini dapat terhirup oleh orang lain yang sehat, sehingga "bi-idznillah" tertularlah dia . .
 
Ini adalah salah satu penjelasan mengapa cacar air banyak menular di sekolah. Sebagaimana saya jelaskan pada posting sebelumnya, penularan melalui metode kontak langsung dengan penderita juga dapat terjadi, namun penularan melalui mekanisme droplet dapat terjadi jauh lebih cepat.
 
Ketika terhirup, droplet berisi virus akan menempel pada selaput lendir saluran napas orang yang sehat. Setelah menempel pada dinding selaput lendir host yang baru, virus akan meng-inject DNA dalam kandungannya. Bentuk VZV (varicella zooster virus) kira-kira seperti bola berduri, sehingga bentuk tersebut memudahkan “pekerjaannya” menulari orang sehat. Anda dapat membayangkan bila beberapa ratus ribu hingga beberapa juta butir benda seram seperti itu terhirup oleh saluran napas kita dan beramai-ramai menyuntikkan DNA dalam kandungannya ke tubuh kita…
 
Nah setelah itu virus akan memulai proliferasi di kelenjar limfatik regional terdekat dari tempat infeksinya. Proses proliferasi adalah bagian penting dari infeksi virus, yang artinya berkembang biak, memperbanyak diri, memperkuat, dan memperbesar. Proses ini terjadi 2-4 hari setelah infeksi awal, yang diikuti oleh proses selanjutnya, yaitu keluar dari kelenjar limfa, menuju ke pembuluh darah dalam jumlah yang besar dan mengalir dalam darah ke seluruh tubuh. Proses ini disebut viremia, terjadi hanya 4 – 6 hari setelah infeksinya. Pada cacar air, viremia terjadi 2 kali.
 
Pada viremia pertama virus menyebar ke seluruh tubuh melalui derasnya aliran darah dalam pembuluh nadi kita. Aliran tersebut ada yang menuju otak, hati, paru, ginjal, usus, kulit, dan organ-organ lainnya. Hal ini dimanfaatkan oleh virus ini untuk melakukan proliferasi kedua kalinya, dan kali ini tidak hanya di kelenjar limfatik regional saja, melainkan juga di organ-organ dalam tubuh yang dilalui aliran darah. Pada fase serangan kedua ini virus tidak lagi tertahan oleh sistem pertahanan regional yang disebut sistem limfatik, dan lolos ke seluruh tubuh, memasuki setiap celah yang dapat dimasukinya, memperbanyak diri di sana. Pada fase ini, timbul demam pada penderitanya, disertai munculnya gelembung kecil-kecil berisi cairan di kulit penderita.

Kecuali seseorang menderita gangguan sistem imun seperti AIDS dan lainnya, sistem imunitas tubuh tentu saja tidak akan tinggal diam dan membiarkan ada serangan besar-besaran dalam tubuh. Sistem pertahanan selanjutnya dalam tubuh kita adalah Cell-mediated Immune Response dan Immunoglobulin (Ig), yang terdiri dari IgG, IgM, dan IgA. Cell-mediated Immune Response berfungsi membatasi jangkauan dan durasi serangan primer virus ini, sementara Immunoglobulin akan “mencatat” tingkah si virus dan membukukannya dalam memori seumur hidup. Ini adalah alasan mengapa hampir semua penyakit virus disebut sebagai self-limiting disease atau dapat sembuh dengan sendirinya.

Setelah dilawan oleh pasukan imunitas tubuh, virus ini kemudian mundur teratur, namun tidak mati. Virus ini menjadi laten dan bersembunyi seumur hidup dalam tubuh kita. Apakah dapat menjadi aktif kembali ? Ya ! Virus ini dapat mengalami reaktivasi kembali dalam bentuk lain yaitu Herpes Zooster. Ini sebabnya virus tersebut diberi nama Varicella – Zooster Virus. Sesuai dengan tingkat daya tahan tubuh, virus ini dapat menjadi bahaya laten yang dapat menyerang kembali di kemudian hari, dengan catatan : daya tahan tubuh pas lagi turun. Berbeda dengan serangan pertamanya, virus ini tidak memunculkan gelembung-gelembung pada kulit pada serangan-serangan berikutnya.
 
Sebagai catatan, ini adalah hal yang terjadi pada orang normal. Saat ini dengan berkembangnya penyakit termasuk penyakit gangguan imunitas, pola serangan dapat berubah, dan tidak akan kita bahas di sini.

Oke, kita sudah mendengar dan mengetahui gejala dan cara penularannya. Gimana cara kita mencegahnya ? Pada tahun 1995 telah ditemukan vaksinasi terhadap penyakit ini. Di beberapa negara, vaksinasi terhadap varicella diwajibkan sebagai syarat anak masuk sekolah. Sayangnya, vaksinasi ini tidak termasuk dalam program imunisasi wajib bagi anak Indonesia. Proteksi yang didapat dari vaksinasi tidak bersifat seumur hidup, sehingga harus diulang setiap 5 tahun. Berita bagusnya, bagi seorang dewasa yang pernah terkena penyakit ini pada masa kecilnya, sesekali kontak dengan penderita cacar air (contoh : anaknya atau saudara serumah ada yang terkena) berguna sebagai booster vaksinasi bagi tubuhnya. Booster adalah suatu cara untuk memperkuat “ingatan” sistem imun tubuh kita terhadap penyakit yang pernah dialaminya dulu.

Karena sifatnya sebagai penyakit yang sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), pengobatan biasanya bersifat hanya sebagai penunjang saja. Apa saja yang ditunjang dengan pengobatan ? Banyak hal, seperti keluhan pada kulitnya diusahakan agar tidak menimbulkan gatal sehingga digaruk dan pecah; keluhan demamnya harus diturunkan agar penderita merasa lebih nyaman dan dapat beristirahat lebih baik; depresi yang terjadi (bila ada – karena penampilan kulit yang kurang baik misalnya) dapat diringankan dengan konsultasi dan obat-obatan; dan keluhan-keluhan lain yang mungkin terjadi.

Cacar air yang terjadi pada anak biasanya tidak berat, bahkan seringkali anak masih ingin berangkat ke sekolah. Pada orang dewasa gejala yang dialami biasanya lebih berat, dan diperlukan obat lain sebagai anti virus (seperti acyclovir) selain obat penunjangnya saja. Penting untuk diingat, pada penderita cacar air yang sedang demam, sebaiknya tidak diberikan aspirin untuk meredakan demamnya, karena berpotensi menimbulkan kelainan yang disebut sindroma Reye. Penyakit ini bila terjadi sendirian tidak menimbulkan problem besar.
 
Problem baru terjadi ketika terjadi penyulit komplikasi di tempat lain, seperti pneumonia (radang paru), hepatitis (radang liver), ensefalitis (radang otak), atau infeksi lainnya yang “menumpang” pada saat kondisi tubuh penderita sedang lemah. Kebanyakan penyulit tersebut terjadi pada individu yang memiliki masalah dengan imunitas tubuhnya. Belakangan dikenal juga suatu sindrom perdarahan pada cacar air (haemorrhagic chickenpox syndrome) yang masih belum diketahui sebabnya.

Wallohu a'lam. 
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Permata Salaf ..

 "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.  Dan aku (Rasulullah) adalah sebaik-baik Salaf bagimu." (H.R Muslim) [ Fathimah bintu Rosulillah rodliyallohu 'anha ]

 
Allohummanshur Ikhwaananaa Salafiyyiin bidammaaj (Ya Alloh Tolonglah Saudara-saudara kami salafiyyin di Dammaj) Allohumma allif baina quluubihim (Ya Alloh satukan hati-hati mereka) Allohumma tsabbit aqdaamahum (Ya Alloh kokohkan kedudukan mereka) Wanshurhum 'alal Qoumil Kaafirin (Tolonglah (mereka dari orang-orang kafir) Allohumma 'alayka birrofidhoh (Ya Alloh HANCURKAN rofidhoh) Allohumma dzalzilhum (Ya Alloh goncanglah mereka) Wafarriq Syamlahum (Obrak-abriklah persatuan mereka) Allohumma dammirhum tadmiiroo (Ya Alloh HANCURKAN mereka sehancur-hancurnya) Ya Robbal'alamin (Wahai pencipta Alam Semesta)
i-Radio Network .::

dengar

tekan play, bila tak terdengar? Cobalah klik di sini . .

[ 23 pengunjung Online ]
Hits Counter: 547454
mod_vvisit_counterHari ini286
mod_vvisit_counterKemarin293
mod_vvisit_counterPekan ini286
mod_vvisit_counterBulan ini1508
mod_vvisit_counterTotal35916
free counters